Super User

Super User

Aliquam erat volutpat. Proin euismod laoreet feugiat. In pharetra nulla ut ipsum sodales non tempus quam condimentum. Duis consequat sollicitudin sapien, sit amet ultricies est elementum ac. Aliquam erat volutpat. Phasellus in mollis augue.

Website URL: http://www.youjoomla.com

21
May

HUMAS PAMEKASAN – Bupati Pamekasan Baddrut Tamam menganjurkan agar para pejabat di lingkungan pemkab memakai baju batik baru saat Lebaran sebagai upaya untuk mendorong dan membantu peredaran ekonomi lokal di wilayah itu.

“Soalnya, hanya batik ini yang merupakan produk lokal, hasil kerajinan rakyat Pamekasan,” katanya saat menghadiri acara Safari Ramadhan di Kecamatan Pakong, Selasa (21/5/2019).

Bupati menyatakan, cara ini merupakan upaya untuk membangun iklim ekonomi yang terpusat di lingkup lokal Pamekasan, sekaligus untuk memotivasi tumbuhkan kelompok usaha dan kerajinan baru yang terpusat di Pamekasan.

Dalam kesempatan itu, Bupati Baddrut Tamam juga sempat memberikan gambaran potensi ekonomi yang bisa dikembangkan di Pamekasan karena menjadi kebutuhan masyarakat. Seperti kopiah dan sandal jepit.

“Kalau anda ajunan mencari di google, berapa harga mesin pembuat sandal, harganya hanya sekitar Rp2 jutaan. Sampai sekarang sandal jepit yang kita pakai masih diproduksi di daerah lain dan belum ada warga Pamekasan yang menangkap peluang ini,” ujar bupati.

“Kenapa, kami mendorong produksi kebutuhan kita ini bisa diproduksi di Pamekasan? Agar ekonomi kita berputar disini,” ucap bupati, menambahkan.

Pada bagian lain, Baddrut Tamam menjelaskan tentang orientasi Safari Ramadhan yang digelar Forkopinda Pemkab Pamekasan kali ini.

Menurut dia, ada tiga hal yang menjadi orientasi pemkab, yakni 1). silaturrahmi, 2) membangun pola kepemimpinan yang tak berjarak, 3). mendorong pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang terinintegratif guna kemajuan ekonomi Pamekasan.

Bupati juga menjelaskan lima hal penting yang menjadi program Berbaur, yakni, 1). reformasi birokrasi, 2). Kesehatan, 3). Ekonomi, 4). Pendidikan, 5). Infrastruktur.

“Fokus utama dari lima program ini adalah desa, yakni desa tematik. Masing-masing desa harus menetapkan program utama,” kata bupati.

Sebagaimana Safari Ramadhan di Kecamatan Batumarmar, Pasean dan Kecamatan Waru, pada acara Safari Ramadhan di Kecamatan Pakong ini juga diawaki dengan penyerahan santunan kepada anak yatim. (fal/hms)

21
May

HUMAS PAMEKASAN – Bupati Pamekasan Baddrut Tamam menganjurkan agar para pejabat di lingkungan pemkab memakai baju batik baru saat Lebaran sebagai upaya untuk mendorong dan membantu peredaran ekonomi lokal di wilayah itu.

“Soalnya, hanya batik ini yang merupakan produk lokal, hasil kerajinan rakyat Pamekasan,” katanya saat menghadiri acara Safari Ramadhan di Kecamatan Pakong, Selasa (21/5/2019).

Bupati menyatakan, cara ini merupakan upaya untuk membangun iklim ekonomi yang terpusat di lingkup lokal Pamekasan, sekaligus untuk memotivasi tumbuhkan kelompok usaha dan kerajinan baru yang terpusat di Pamekasan.

Dalam kesempatan itu, Bupati Baddrut Tamam juga sempat memberikan gambaran potensi ekonomi yang bisa dikembangkan di Pamekasan karena menjadi kebutuhan masyarakat. Seperti kopiah dan sandal jepit.

“Kalau anda ajunan mencari di google, berapa harga mesin pembuat sandal, harganya hanya sekitar Rp2 jutaan. Sampai sekarang sandal jepit yang kita pakai masih diproduksi di daerah lain dan belum ada warga Pamekasan yang menangkap peluang ini,” ujar bupati.

“Kenapa, kami mendorong produksi kebutuhan kita ini bisa diproduksi di Pamekasan? Agar ekonomi kita berputar disini,” ucap bupati, menambahkan.

Pada bagian lain, Baddrut Tamam menjelaskan tentang orientasi Safari Ramadhan yang digelar Forkopinda Pemkab Pamekasan kali ini.

Menurut dia, ada tiga hal yang menjadi orientasi pemkab, yakni 1). silaturrahmi, 2) membangun pola kepemimpinan yang tak berjarak, 3). mendorong pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang terinintegratif guna kemajuan ekonomi Pamekasan.

Bupati juga menjelaskan lima hal penting yang menjadi program Berbaur, yakni, 1). reformasi birokrasi, 2). Kesehatan, 3). Ekonomi, 4). Pendidikan, 5). Infrastruktur.

“Fokus utama dari lima program ini adalah desa, yakni desa tematik. Masing-masing desa harus menetapkan program utama,” kata bupati.

Sebagaimana Safari Ramadhan di Kecamatan Batumarmar, Pasean dan Kecamatan Waru, pada acara Safari Ramadhan di Kecamatan Pakong ini juga diawaki dengan penyerahan santunan kepada anak yatim. (fal/hms)

19
May

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam saat menjadi dosen tamu di UGM Yogyakarta.

 

HUMAS PAMEKASAN – Kepemimpinan Inovatif di Era Disruptif adalah tema materi yang disampaikan Bupati Pamekasan Baddrut Tamam saat menjadi narasumber atau dosen tamu di FISIPOL UGM pada acara kuliah umum yang digelar pada 16 Mei 2019 pada mata kuliah “Kepemimpinan Sektor Publik” yang diampu oleh dosen H Suharyanto dengan tema materi yang disampaikan “Kepemimpinan dan Inovasi Pelayanan Publik”.

Ada dua istilah penting yang menjadi fokus bahasan Baddrut Tamam pada kuliah umum tersebut, yakni “inovatif” dan “disruptif”. Istilah disruptif dan inovatif (disruptive innovation) ini pertama kali dicetuskan oleh Clayton M. Christensen dan Joseph Bower pada artikel “Disruptive Technologies: Catching the Wave” di jurnal Harvard Business Review (1995). Menurut catatan wikipedia, artikel tersebut sebenarnya ditujukan untuk para eksekutif yang menentukan pendanaan dan pembelian disuatu perusahaan berkaitan dengan pendapatan perusahaan dimasa depan.

Dalam konteks ini, Inovasi disruptif (disruptive innovation) merupakan inovasi yang membantu menciptakan pasar baru, mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada, dan pada akhirnya menggantikan teknologi terdahulu tersebut. Inovasi disruptif mengembangkan suatu produk atau layanan dengan cara yang tak diduga pasar, umumnya dengan menciptakan jenis konsumen berbeda pada pasar yang baru dan menurunkan harga pada pasar yang lama. Dengan demikian, titik tekan pada dua kata tersebut, disruptif dan inovatif gampangnya adalah pada inovasi dan kemampuan merespon perubahan secara cepat dan tidak menentu, menjadi sesuatu yang menguntungkan.

Di lingkup kepemimpinan institusi pemerintah, hal penting yang perlu dilakukan adalah pentingnya membentuk paradigma baru dalam pengelolaan pemerintahan, yakni paradigma dalam mengelola pemerintahan. “Birokrasi yang kaku dan terlalu formal terlalu menguntungkan pada regulasi yang top down, sudah waktunya kita ubah,” kata Baddrut, seperti yang disampaikan kepada media.

Ia menilai sejak dulu birokrasi lebih dekat dengan kesan negatif, seperti lambat dalam pelayanan, tidak kreatif dan anti inovasi. Kini, paradigma tersebut sudah tidak relevan lagi, sehingga harus menerapkan cara berpikir dan bertindak yang lebih tepat, dan ia mencontohkan seperti yang sudah banyak dilakukan oleh sejumlah organisasi swasta.

Bertindak cepat ini, hanya berpotensi dilakukan oleh badan ramping, yang dalam konteks pemerintahan ia istilahkan dengan postur birokrasi. “Postur birokrasi tidak boleh lagi gemuk, tambun dan lamban. Tetapi harus ramping, efesien dan gesit. Dalam istilah konsep kebijakan publik, muncul yang namanya ‘new public management‘,” sambung pria yang akrab disapa Ra Badrut.

Selain itu, yang juga tidak kalah pentingnya yang juga perlu dipahami oleh para pemimpin dan pengelola manajemen organisasi adalah tantangan kepemimpinan di era disruptif. “Prinsipnya ada banyak gaya kepemimpinan yang bisa diterapkan di era disrupsi seperti saat ini, di antaranya harus memiliki terobosan, memberikan kesempatan dan kebebasan bagi tim,” bebernya.

Bahkan dalam kesempatan itu, Badrut Tamam juga menyampaikan beberapa capaian inovasi yang dilakukan selama beberapa bulan memimpin Pamekasan. Di antaranya kesuksesannya merealisasikan Mal Pelayanan Publik (MPP), pelayanan aplikasi berbasis online, branding batik hingga program bursa inovasi desa.

Tiga Hal Penting
Terkait pola kepemimpinan inovatif di era disruptif ini, Staf Khusus Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Dr KH Abdul Wahid Maktub dalam sebuah orasi ilmiah dalam seminar kebangsaan yang dilaksanakan oleh Ikatan Alumni BSI yang didukung oleh Bidang Kemahasiswaan BSI, belum lama ini mengemukakan, ada tiga poin utama untuk dapat menghadapi perubahan serta mampu bertahan di era yang serba penuh ketidak pastian ini.

Ketiga hal tersebut adalah iteration, innovation, dan disruption. Iteration dimaksudkan melakukan hal yang sama tetapi dilakukan dengan maksimal sehingga menghasilkan hasil yang baik. Selanjutnya, innovation adalah dengan melakukan perubahan serta menemukan hal yang baru, dan ketiga disruptif, yakni masyarakat harus men-disruptif diri sendiri dengan perkembangan era saat ini, sehingga mampu melakukan perubahan.

“Jika mahasiswa tidak men-disruptif dirinya sendiri dengan perubahan era saat ini, dengan mengubah diri menjadi lebih baik dan berinovasi – maka, kesempatan ini dapat menjadi hadiah bagi orang lain,” papar Maktub kata itu.

Ketiga kunci ini, lanjut Maktub, harus berimbang dengan sikap responsif dan adaptif dalam menghadapi perubahan. Selain itu juga harus memiliki kesiapan yang matang.

“Kesiapan yang paling utama adalah dengan memiliki pengetahuan. Pengetahuan yang mampu menuntun kita untuk melakukan perubahan dan berinovasi. Diimbangi dengan kejelasan tujuan, tangkas dan cepat. Selain itu, juga harus memiliki self control seperti tidak malas, dispilin, berprestasi, saling menghormati serta mampu memimpin diri sendiri apabila ingin bertahan di era disruptif,” katanya, menambahkan.

Dalam konteks lokal Pamekasan, konsep kepemimpinan inovatif-disruptif (disruptive innovation) ini bisa dilihat misalnya dari terobosan yang telah dilakukan selama ini. Antara lain pada branding batik tulis di kendaraan dinas milik Pemkab Pamekasan.

Baddrut, selaku bupati, berupaya bergerak di luar jalur kotak (out of the box), bahkan kendaraan dinas hanya sebatas penunjang kegiatan aparatur sipil negara (ASN) dalam menjalankan tugas dan rutinitas organisasi, menjadi sesuai yang bernilai ekonomis, yakni media promosi usaha perajin batik tulis masyarakat. Sebuah upaya dan terobosan yang belum pernah dilakukan oleh pemimpin sebelumnya. Demikian juga dengan keberadaan “Mall Pelayanan Publik”.

Anggaran untuk membuat program kegiatan, cenderung menjadi kendala. Tapi Bupati Baddrut Tamam mampu menyiasati itu semua, dengan sistem kerja sama dan sama kerja antarberbagai organisasi perangat daerah. “Jika hasilnya belum maksimal itu wajar, wong kita membuat ‘Mall Pelayanan Publik’ ini tanpa anggaran,” katanya dalam sebuah kesempatan. (fal/hms).

 

Tulisan ini telah ditayangkan di penawarta.com, dan disarikan dari kuliyah umum Bupati Pamekasan Baddrut Tamam di kampus UGM, 16 Mei 2019.

 
 
16
May

Foto : Bupati Pamekasan Baddrut Tamam menjadi dosen tamu di Univeritas Gadjah Mada pada kuliah umum yang digelar di Ruang Auditorium Mandiri FISIPOL UGM Gedung BB Lantai 4 di kampus itu, Kamis (16/5/2019).

 

HUMAS PAMEKASAN – Keberhasilan Bupati Pamekasan Baddrut Tamam dalam bidang pelayanan publik yang cepat dan inovatif, menjadi perhatian berbagai kalangan, baik oleh institusi pemerintah yang lebih tinggi seperti Pemprov Jatim dan Pemerintah Pusat, maupun oleh lembaga pendidikan tinggi. Salah satunya Universitas Gadjah Mada (UGM).

 

Perguruan Tinggi Negeri ini tertarik atas capaian keberhasilan yang telah diraih Bupati Pamekasan Baddrut Tamam dalam 100 hari kerja pertama yang dijalaninya, sejak Baddrut dilantik menjadi Bupati Pamekasan bersama Wakilnya Raja’e.

 

Keberhasilan “Berbaur” panggilan akrab pasangan Bupati Pamekasan Baddrut Tamam mendorong pihak UGM tergugah untuk mengundang sang bupati muda ini, agar bisa berbagi ilmu dengan mahasiswa di kampus itu. Sebab, wawasan kepemimpinan yang didasarkan para praktik langsung di lapangan, dinilai sangat efektif untuk menambah wawasan yang berorientasi pada hal-hal yang bernilai guna dan tepat guna bagi mahasiswa.

 

Oleh karenanya, FISIPOL UGM menjadikan Bupati Baddrut Tamam sebagai dosen tamu pada acara kuliah umum yang digelar pada 16 Mei 2019 pada mata kuliah “Kepemimpinan Sektor Publik” yang diampu oleh dosen H Suharyanto dengan tema materi yang disampaikan “Kepemimpinan dan Inovasi Pelayanan Publik”.

 

 

Dalam kuliah tamu itu, Bupati Baddrut Tamam menyampaikan materi berjudul “Kepemimpinan Inovatif di Era Disruptif”. Ia memulai materi kuliahnya dengan terlebih dahulu memperkenalkan diri, menyampaikan visi dan misinya, lalu menceritakan pola-pola yang dilakukan diawal-awal dirinya memimpin Pamekasan bersama wakilnya Raja’e, hingga berhasil mendirikan “Mall Pelayanan Publik” dan membranding batik tulis Pamekasan di semua kendaraan dinas milik Pemkab Pamekasan hanya dalam waktu kurang dari seratus hari dirinya memimpin Pamekasan.

 

Canda tawa, dan guyonan menarik yang membuat ruang kuliah terasa hidup, yang memang menjadi ciri pemimpin muda muda, mewarnai suasana kuliah umum program studi S1 Manajemen dan Kebijakan Publik FISIPOL UGM itu.

 

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam menyampaikan materi kuliah yang digelar di Ruang Auditorium Mandiri FISIPOL UGM Gedung BB Lantai 4 itu selama 2 jam, mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB.

 

Perserta terlihat sangat antusias menyimak materi yang disampaikan mantan anggota DPRD Jawa Timur dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini. Sesekali ia mempromosikan batik tulis Pamekasan sebagai batik tulis terbaik di Indonesia yang menurut “Berbaur” sudah diakui oleh para menteri dan pejabat pemerintahan di tingkat pusat, termasuk Ratu Hemas dari Yogyakarta. (fal/hms)