28
June

 

HUMAS PAMEKASAN - Bupati Pamekasan, H. Baddrut Tamam, S. Psi secara resmi melepas Kontingen Kabupaten Pamekasan pada Porprov Jatim VI 2019 di Hotel Front One Pamekasan, Jumat (26/06).  Acara pelepasan kontingen juga dihadiri jajaran Forkopimda, Ketua KONI Kab. Pamekasan, Pengurus, pendamping, pelatih dan para atlit.

 

Dalam Sambutannya Bupati milenial itu menyampaikan ucapan Selamat kepada seluruh kontingen dan  para atlet peserta porprov yang akan bertanding di Kabupaten Gresik, Lamongan, Tuban dan Bojonegoro yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Koni Jawa Timur yang diikuti oleh 38  Kabupaten/kota Se Jawa timur. Junjung sportivitas dan semangat kebersamaan dan kekeluargaan demi nama baik Pemerintah dan masyarakat Pamekasan.

 

 

Smentara itu Lanjut Baddrut Tamam, jika Porprov dilaksanakan di Pamekasan ada beberapa hal yang menjadi target utamanya, selain prestasi atlit dalam cabang olahraga juga tingkat perekonomian yang berdampak bagi masyarakat secara langsung.

 

"Dengan menjadi tuan rumah, disitu juga akan ada pertumbuhan ekonomi baru dengan datangnya ribuan orang ke Pamekasan, sehingga akan banyak terjadi perputaran uang yang luar biasa dan masyarakat akan mendapatkan manfaat dari porprov itu," ungkapnya.

Bagi Kabupaten Pamekasan keikutsertaan atlet di ajang ini merupakan kesempatan untuk memposisikan diri dengan kabupaten/kota di Jawa Timur sekaligus meneguhkan tekat Pemerintah Kabupaten Pamekasan dalam membangun kebangkitan Kabupaten Pamekasan sebagai Kabupaten Pendidikan dalam arti luas. (fal/hms)

01
June

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam didampingi Wakil Bupati Raja'e, Sabtu (1/6/2019) memantau secara langsung harga kebutuhan bahan pokok di salah satu pasar tradisional di Kabupaten Pamekasan. Selain memantau persediaan dan harga sembako, Bupati dan Wabup Pamekasan juga memantau kesiapan layanan publik saat libur lebaran di sejumlah puskesmas dan pos pantau Lebaran

 

 

HUMAS PAMEKASAN – Bupati Pamekasan Baddrut Tamam dan Wakil Bupati Raja’e memantau harga sejumlah kebutuhan bahan pokok menjelang Lebaran 1440 Hijriah kali ini, di sejumlah toko swalayan dan pasar tradisional di wilayah itu bersama Forkopimda pemkab setempat, Sabtu (1/6/2019).

“Alhamdulillah berdasarkan hasil pemantauan yang kami lakukan tadi, harga sejumlah kebutuhan bahan pokok stabil. Stok beras juga cukup, termasuk kebutuhan bahan pokok lainnya,” kata Baddrut Tamam.

Pemantauan harga kebutuhan bahan pokok yang digelar setelah upacara memperingati Hari Lahirnya Pancasila di halaman Pendopo Ronggosukowati Pamekasan itu, menyasar sejumlah pasar tradisional di Pamekasan, dan melibat unsur kepolisian dan TNI.

Bupati Baddrut Tamam bersama Wabup Raja’e memantau secara langsung dan berdialog dengan para pedagang.

“Kami akan terus meminta tim khusus yang telah kami bentuk untuk melakukan pemantauan,” katanya.

Menurut data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemkab Pamekasan, dari berbagai kebutuhan bahan pokok itu, hanya cabai biasa dan buncis yang mengalami kenaikan.

Harga cabai biasa naik dari Rp51 ribu per kilogram menjadi Rp55 ribu per kilogram, sedangkan buncis naik dari Rp7.500 per kilogram menjadi Rp8.000 per kilogram.

“Kalau harga kebutuhan bahan pokok lainnya tetap, sama dengan harga sebelumnya,” kata Kepala Disperindag Pemkab Pamekasan Bambang Edy Suprapto.

 

 

Ia merinci, untuk beras bengawan saat ini Rp12.000 per kilogra, beras mentik Rp10.000 per kilogram, dan beras IR64 Rp9.000 per kilogram.

Gula pasir dalam negeri Rp13.000 per kilogram, minyak goreng Bimoli Botol/ Kemasan (Sps) 620 ml Rp13.000, Bimoli botol/Kemasan (sps) 2 liter Rp26.000, dan minyak goreng tanpa Merk/minyak curah Rp10.500 per kilogram.

Harga Daging Sapi Murni terpantau Rp105.000 per kilogram, Daging Ayam Broiler Rp38.500 per kilogram, dan harga daging ayam kampung Rp67.500 per kilogram.

“Kalau telur ayam ras/ Petelur per hari ini Rp22.000 per kilogram, telur ayam kampung Rp47.500 per kilogram,” katanya, menjelaskan.

Sementara, susu susu kental manis Merk Bendera 397 gr/kl Rp10.000, susu kental manis merk Indomilk 390 gr/kl Rp10.500, jagung pipulan kering Rp7.500 per kilogram, garam beryodium bata buah Rp1.000 dan garam beryodium bata halus Rp8.000 per kilogram.

Tepung terigu untuk jenis segitiga Biru (Kw Medium) Rp9.500 per kilogram, kacang kedelei ekspor Rp11.000 per kilogram dan kacang kedelei lokal Rp9.500 per kilogram.

Lalu mie instant Indomie Rasa Kari Ayam Bungkus Rp2.500, cabai biasa Rp55.000 per kilogram, cabai rawit Rp14.500 per kilogram.

Bawang merah Rp27.500 per kilogram, bawang putih Rp33.500 per kilogram, ikan asin teri Rp65.000 per kilogram, kacang hijau Rp16.000 per kilogram,kacang tanah Rp21.000 per kilogram, ketela pohon Rp7.000 per kilogram.

Untuk jenis sayur mayur, menurut Bambang, harga yang berlaku di pasaran saat ini sama dengan harga sebelumnya. Seperti Kol/kubir Rp9.500 per kilogram, kentang Rp12.000 per kilogram, dan wortel Rp13.000 per kilogram.

“Hanya buncis yang mengalami kenaikan dari Rp7.500 per kilogram menjadi Rp8.000 per kilogram,” katanya, menjelaskan. (fal/hms)

21
May

HUMAS PAMEKASAN – Bupati Pamekasan Baddrut Tamam menganjurkan agar para pejabat di lingkungan pemkab memakai baju batik baru saat Lebaran sebagai upaya untuk mendorong dan membantu peredaran ekonomi lokal di wilayah itu.

“Soalnya, hanya batik ini yang merupakan produk lokal, hasil kerajinan rakyat Pamekasan,” katanya saat menghadiri acara Safari Ramadhan di Kecamatan Pakong, Selasa (21/5/2019).

Bupati menyatakan, cara ini merupakan upaya untuk membangun iklim ekonomi yang terpusat di lingkup lokal Pamekasan, sekaligus untuk memotivasi tumbuhkan kelompok usaha dan kerajinan baru yang terpusat di Pamekasan.

Dalam kesempatan itu, Bupati Baddrut Tamam juga sempat memberikan gambaran potensi ekonomi yang bisa dikembangkan di Pamekasan karena menjadi kebutuhan masyarakat. Seperti kopiah dan sandal jepit.

“Kalau anda ajunan mencari di google, berapa harga mesin pembuat sandal, harganya hanya sekitar Rp2 jutaan. Sampai sekarang sandal jepit yang kita pakai masih diproduksi di daerah lain dan belum ada warga Pamekasan yang menangkap peluang ini,” ujar bupati.

“Kenapa, kami mendorong produksi kebutuhan kita ini bisa diproduksi di Pamekasan? Agar ekonomi kita berputar disini,” ucap bupati, menambahkan.

Pada bagian lain, Baddrut Tamam menjelaskan tentang orientasi Safari Ramadhan yang digelar Forkopinda Pemkab Pamekasan kali ini.

Menurut dia, ada tiga hal yang menjadi orientasi pemkab, yakni 1). silaturrahmi, 2) membangun pola kepemimpinan yang tak berjarak, 3). mendorong pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang terinintegratif guna kemajuan ekonomi Pamekasan.

Bupati juga menjelaskan lima hal penting yang menjadi program Berbaur, yakni, 1). reformasi birokrasi, 2). Kesehatan, 3). Ekonomi, 4). Pendidikan, 5). Infrastruktur.

“Fokus utama dari lima program ini adalah desa, yakni desa tematik. Masing-masing desa harus menetapkan program utama,” kata bupati.

Sebagaimana Safari Ramadhan di Kecamatan Batumarmar, Pasean dan Kecamatan Waru, pada acara Safari Ramadhan di Kecamatan Pakong ini juga diawaki dengan penyerahan santunan kepada anak yatim. (fal/hms)

19
May

Bupati Pamekasan Baddrut Tamam saat menjadi dosen tamu di UGM Yogyakarta.

 

HUMAS PAMEKASAN – Kepemimpinan Inovatif di Era Disruptif adalah tema materi yang disampaikan Bupati Pamekasan Baddrut Tamam saat menjadi narasumber atau dosen tamu di FISIPOL UGM pada acara kuliah umum yang digelar pada 16 Mei 2019 pada mata kuliah “Kepemimpinan Sektor Publik” yang diampu oleh dosen H Suharyanto dengan tema materi yang disampaikan “Kepemimpinan dan Inovasi Pelayanan Publik”.

Ada dua istilah penting yang menjadi fokus bahasan Baddrut Tamam pada kuliah umum tersebut, yakni “inovatif” dan “disruptif”. Istilah disruptif dan inovatif (disruptive innovation) ini pertama kali dicetuskan oleh Clayton M. Christensen dan Joseph Bower pada artikel “Disruptive Technologies: Catching the Wave” di jurnal Harvard Business Review (1995). Menurut catatan wikipedia, artikel tersebut sebenarnya ditujukan untuk para eksekutif yang menentukan pendanaan dan pembelian disuatu perusahaan berkaitan dengan pendapatan perusahaan dimasa depan.

Dalam konteks ini, Inovasi disruptif (disruptive innovation) merupakan inovasi yang membantu menciptakan pasar baru, mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada, dan pada akhirnya menggantikan teknologi terdahulu tersebut. Inovasi disruptif mengembangkan suatu produk atau layanan dengan cara yang tak diduga pasar, umumnya dengan menciptakan jenis konsumen berbeda pada pasar yang baru dan menurunkan harga pada pasar yang lama. Dengan demikian, titik tekan pada dua kata tersebut, disruptif dan inovatif gampangnya adalah pada inovasi dan kemampuan merespon perubahan secara cepat dan tidak menentu, menjadi sesuatu yang menguntungkan.

Di lingkup kepemimpinan institusi pemerintah, hal penting yang perlu dilakukan adalah pentingnya membentuk paradigma baru dalam pengelolaan pemerintahan, yakni paradigma dalam mengelola pemerintahan. “Birokrasi yang kaku dan terlalu formal terlalu menguntungkan pada regulasi yang top down, sudah waktunya kita ubah,” kata Baddrut, seperti yang disampaikan kepada media.

Ia menilai sejak dulu birokrasi lebih dekat dengan kesan negatif, seperti lambat dalam pelayanan, tidak kreatif dan anti inovasi. Kini, paradigma tersebut sudah tidak relevan lagi, sehingga harus menerapkan cara berpikir dan bertindak yang lebih tepat, dan ia mencontohkan seperti yang sudah banyak dilakukan oleh sejumlah organisasi swasta.

Bertindak cepat ini, hanya berpotensi dilakukan oleh badan ramping, yang dalam konteks pemerintahan ia istilahkan dengan postur birokrasi. “Postur birokrasi tidak boleh lagi gemuk, tambun dan lamban. Tetapi harus ramping, efesien dan gesit. Dalam istilah konsep kebijakan publik, muncul yang namanya ‘new public management‘,” sambung pria yang akrab disapa Ra Badrut.

Selain itu, yang juga tidak kalah pentingnya yang juga perlu dipahami oleh para pemimpin dan pengelola manajemen organisasi adalah tantangan kepemimpinan di era disruptif. “Prinsipnya ada banyak gaya kepemimpinan yang bisa diterapkan di era disrupsi seperti saat ini, di antaranya harus memiliki terobosan, memberikan kesempatan dan kebebasan bagi tim,” bebernya.

Bahkan dalam kesempatan itu, Badrut Tamam juga menyampaikan beberapa capaian inovasi yang dilakukan selama beberapa bulan memimpin Pamekasan. Di antaranya kesuksesannya merealisasikan Mal Pelayanan Publik (MPP), pelayanan aplikasi berbasis online, branding batik hingga program bursa inovasi desa.

Tiga Hal Penting
Terkait pola kepemimpinan inovatif di era disruptif ini, Staf Khusus Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Dr KH Abdul Wahid Maktub dalam sebuah orasi ilmiah dalam seminar kebangsaan yang dilaksanakan oleh Ikatan Alumni BSI yang didukung oleh Bidang Kemahasiswaan BSI, belum lama ini mengemukakan, ada tiga poin utama untuk dapat menghadapi perubahan serta mampu bertahan di era yang serba penuh ketidak pastian ini.

Ketiga hal tersebut adalah iteration, innovation, dan disruption. Iteration dimaksudkan melakukan hal yang sama tetapi dilakukan dengan maksimal sehingga menghasilkan hasil yang baik. Selanjutnya, innovation adalah dengan melakukan perubahan serta menemukan hal yang baru, dan ketiga disruptif, yakni masyarakat harus men-disruptif diri sendiri dengan perkembangan era saat ini, sehingga mampu melakukan perubahan.

“Jika mahasiswa tidak men-disruptif dirinya sendiri dengan perubahan era saat ini, dengan mengubah diri menjadi lebih baik dan berinovasi – maka, kesempatan ini dapat menjadi hadiah bagi orang lain,” papar Maktub kata itu.

Ketiga kunci ini, lanjut Maktub, harus berimbang dengan sikap responsif dan adaptif dalam menghadapi perubahan. Selain itu juga harus memiliki kesiapan yang matang.

“Kesiapan yang paling utama adalah dengan memiliki pengetahuan. Pengetahuan yang mampu menuntun kita untuk melakukan perubahan dan berinovasi. Diimbangi dengan kejelasan tujuan, tangkas dan cepat. Selain itu, juga harus memiliki self control seperti tidak malas, dispilin, berprestasi, saling menghormati serta mampu memimpin diri sendiri apabila ingin bertahan di era disruptif,” katanya, menambahkan.

Dalam konteks lokal Pamekasan, konsep kepemimpinan inovatif-disruptif (disruptive innovation) ini bisa dilihat misalnya dari terobosan yang telah dilakukan selama ini. Antara lain pada branding batik tulis di kendaraan dinas milik Pemkab Pamekasan.

Baddrut, selaku bupati, berupaya bergerak di luar jalur kotak (out of the box), bahkan kendaraan dinas hanya sebatas penunjang kegiatan aparatur sipil negara (ASN) dalam menjalankan tugas dan rutinitas organisasi, menjadi sesuai yang bernilai ekonomis, yakni media promosi usaha perajin batik tulis masyarakat. Sebuah upaya dan terobosan yang belum pernah dilakukan oleh pemimpin sebelumnya. Demikian juga dengan keberadaan “Mall Pelayanan Publik”.

Anggaran untuk membuat program kegiatan, cenderung menjadi kendala. Tapi Bupati Baddrut Tamam mampu menyiasati itu semua, dengan sistem kerja sama dan sama kerja antarberbagai organisasi perangat daerah. “Jika hasilnya belum maksimal itu wajar, wong kita membuat ‘Mall Pelayanan Publik’ ini tanpa anggaran,” katanya dalam sebuah kesempatan. (fal/hms).

 

Tulisan ini telah ditayangkan di penawarta.com, dan disarikan dari kuliyah umum Bupati Pamekasan Baddrut Tamam di kampus UGM, 16 Mei 2019.

 
 
Page 5 of 42