23
October

 

Pamekasan, (Humas Pamekasan) –  Sesuai Surat Edara Bupati Pamekasan Baddrut Tamam  semua Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkab Pamekasan untuk memakai sarung selama tiga hari berturut-turut.

 


“Instruksi itu sudah disampaikan melalui surat edaran yang dibuat Pemerintah Daerah ke masing-masing orgnisasi perangkat daerah (OPD), dalam memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2018, mulai dari tanggal 22 sampai 24 Oktober,” ucapnya.

 

Aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Sekretariat Daerah Kabupaten Pamekasan, mulai dari Pj Sekda, Asisten, Para Kepala Bagian (Kabag) dan seluruh staf di Sekretariat Daerah Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur mengenakan pakaian sarung ala santri.

 

 

 

Tampak ASN mengenakan bawahan sarung dan atasan baju koko warna putih di halaman kantor Pemkab Pamekasan saat apel pagi “Ini bentuk menyemarakkan hari santri Nasional tahun ini, tiga hari ASN disini Pemkab Pamekasan akan memakai sarung,” kata salah satu staf  di lingkungan Setda Kab. Pamekasan. Bahris, Selasa 23/10/2018. (fal/hms).

 

22
October

 

Humas Pamekasan - Bupati Pamekasan, Baddrut Tamam mengakui eksistensi dan peran santri dan ulama' terhadap perjuangan untuk mendapatkan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

 

Demikian disampaikan Bupati Baddrut Tamam usai memimpin apel Hari Santri Nasional (HSN) di Lapangan Nagara Bhakti Ronggosukowati, Pamekasan Madura Jawa Timur, Senin (22/10/2018) di Jl. Pamong Praja 01.

 

"Negara mengakui eksistensi perjuangan para santri, para ulama' dengan memberikan pengakuan legitimasi negara terhadap para santri dengan menetapkan 22 oktober sebagai Hari Santri Nasional. Artinya eksistensi para santri dalam merebut kemerdekaan di Republik ini tidak usah diragukan lagi," tutur pria yang akrab disapa Ra Baddrut.

 

Lebih lanjut Politikus muda Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini mengatakan, pemerintah tinggal bagaimana kemudian mendorong para santri untuk mampu bersaing dengan generasi yang lain.

 

"Pesantren bisa berkemajuan, para alim ulama' kita hormati untuk kemudian menjadi pembimbing kita semua dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara," imbuhnya. 

 

 

Hari Santri Nasional pada tahun ini, khususnya di Kabupaten Pamekasan, dirinya telah meminta dan membuat edaran agar selama 3 hari kedepan para aparatur sipil negara (ASN) menggunakan sarung, batik dan baju putih untuk mendapatkan atmosfer kesantrian. 

 

"Ini adalah suasana pesantren dalam mengelola dan menjalankan pemerintahan di Kabupaten Pamekasan. Atmosfer ini diharapkan menjadi pondasi kita dalam bekerja berdasarkan nilai ajaran agama Islam karena kabupaten ini Kabupaten gerakan pembangunan masyarakat Islami (Gerbang Salam), Kabupaten yang meletakkan agama sebagai landasan dalam mengabdi dan memberikan pelayanan terbaik kepada umat," kata Bupati  Baddrut Tamam. (fal/hms)

 

22
October

Humas Pamekasan– “Music Daul Carnival” menutup rangkaian kegiatan tahunan pertunjukan seni budaya lokal Madura bertajuk “Kemilau Madura 2018” di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Minggu (21/10/2018) malam.

Sebanyak 20 kelompok musik tradisional daul dari empat kabupaten di Pulau Madura, Jawa Timur, yakni Pamekasan, Sumenep, Sampang dan Kabupaten Bangkalan, ambil bagian dalam kegiatan itu.

Menurut Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, selain untuk melestarikan seni dan budaya lokal Madura, “Music Daul Carnival” itu merupakan rangkaian dari kegiatan Hari Jadi Ke-488 Kabupaten Pamekasan.

“Melalui kegiatan ini, kami juga ingin menunjukkan kepada masyarakat di luar Madura, bahwa di Pulau Madura ini sebenarnya kaya akan seni budaya,” ujar Baddrut.

Kegiatan tahunan “Kemilau Madura” ini digelar mulai 19 Oktober 2018 diawali dengan “fasion show” batik Madura, lalu kontes kecantikan sapi, pertunjukan seni budaya Madura bertajuk “Semalam di Madura”, karapan sapi dan ditutup dengan “Music Daul Carnival”.

Karnaval musik tradisional Madura ini, memukau para wisatawan manca negara yang hadir menyaksikan kegiatan itu.

Para pejabat dan tamu undangan dari berbagai kabupaten di Madura yang hadir mengenakan pakaian adat Madura, yakni pesak.

Menurut Baddrut Tamam, upaya melestarikan musik tradisional sebagai bagian dari kearifan lokal tanpa harus menghilangkan ruh-ruh ke-Islaman sebagai identitas Madura.

Ia juga berharap, karnaval musik daul itu tidak hanya menjadi tontonan menarik bagi masyarakat Madura secara umum dan Pamekasan secara khusus, akan tetapi juga bisa menjadi tuntunan.

“Sebagaimana alat musik tradisional walaupun berbeda-beda alat dan nadanya, akan tetapi ketika dikolaborasikan menjadi alunan irama yang sangat indah,” ujar Baddrut.

Begitu juga, sambung dia, dengan membangun Pamekasan dan Madura, harus saling padu, dan menyatu serta seirama, agar cita ideal Pamekasan Hebat segera terwujud.

“Music Daul Carnival” itu dimulai dari Monumen Arek Lancor, Pamekasan dan finis di perempatan Jalan Asem Manis yang berjarak sekitar 2 kilometer.

Akibat kegiatan itu, arus lalu lintas yang melalui kota Pamekasan terpaksa ditutup, sehingga kendaraan yang dari arah Sumenep dan hendak menuju Surabaya atau sebaliknya harus melalui ring road di Jalan Raya Pademawu, Pamekasan.

Kegiatan “Kemilau Madura” itu, sudah masuk dalam 100 kegiatan rutin tahunan yang menjadi destinasi wisata budaya di Indonesia. (pmkshebat/fal/hms)

 

21
October

Penyerahan hadiah juara 1,2 dan 3 pada Festival Kerapan Sapi  gubeng yang merebutkan piala bergilir Presiden  RI di Stadion R Soenarto Pamekasan, 21/10/2018.  (fal/hms).

 

 

 

 

Page 9 of 15